Sejarah Pilu Di Balik Lomba 17an
World

Sejarah Pilu Di Balik Lomba 17an

Salah satu kegiatan yang paling dinantikan saat perayaan 17an adalah menonton berbagai perlombaan seru yang diadakan di kompleks atau lingkungan sekitar rumah. Namun, di balik serunya lomba-lomba tersebut, tahukah Anda, beberapa di antaranya merupakan simbol penderitaan bangsa Indonesia, terutama di era penjajahan?

Balap karung
Lomba lari (atau lompat?) pakai karung ini terlihat gampang, namun sebenarnya membutuhkan kekuatan dan kelincahan karena peserta harus kuat melawan gravitasi dan bobot tubuhnya sendiri. Dikutip dari Suara.com, sejarawan J.J. Rizal mengatakan, penggunaan karung pada lomba balap karung merupakan representasi nyata dari pakaian rakyat Indonesia di masa penjajahan Jepang yang terbuat dari karung goni saking miskinnya.

Pak Jokowi saja ikut lomba balap karung. (Sumber: merdeka)

Makan kerupuk
Lomba paling enak (karena satu-satunya yang mengharuskan pesertanya untuk makan) yang umumnya diikuti anak-anak—walau ada juga lomba makan kerupuk yang ditujukan bagi ibu-ibu. Kerupuk saat ini memang sudah jadi staple side dish yang murah meriah, namun di masa penjajahan dulu, rakyat Indonesia sulit mendapatkan makanan yang layak karena langkanya pangan. Jangankan nasi dengan lauk lengkap, nasi dengan kerupuk saja sudah bersyukur. Mengikat kerupuk dengan tali dan memakannya dengan susah payah disebut sebagai representasi betapa sulitnya mendapatkan makanan di zaman dahulu.

Nyerah deh kalau kerupuknya sebesar ini. (Sumber: k-game)

Egrang
Sepertinya lomba satu ini sudah jarang diadakan, ya? Mungkin karena menyediakan berpasang-pasang egrang menyulitkan panitia lomba dan bujet dari RT atau RW tak mencukupi. Menurut J.J. Rizal, anak-anak pribumi di masa penjajahan menjadikan egrang sebagai mainan dan cara mereka mengejek orang-orang Belanda yang memang bertubuh tinggi. 

Egrangnya saja warna millennial pink! (Sumber: solopos)

Panjat pinang
Ini dia lomba yang penontonnya dijamin paling banyak dan heboh. Lomba satu ini dimulai pada era Dinasti Ming, namun di Indonesia, panjat pinang konon dimulai sejak zaman Belanda menguasai negara ini yang umumnya diadakan saat acara atau pesta besar, misalnya pernikahan. Peserta lomba adalah orang-orang pribumi. Mereka berebutan barang-barang yang kala itu terbilang mewah, seperti berbagai makanan mahal, pakaian layak, dan lain-lain. Selagi peserta jatuh bangun berusaha mengambil hadiah di atas, orang-orang Belanda menyaksikan sambil tertawa, atau tepatnya, menertawai. Peraturan dan pelaksanaannya masih sama hingga sekarang, hanya konteksnya saja yang berbeda.

Yang ini nonton saja, deh. (Sumber: avaxnews)

  • 0
  • Komentar ( 0 )