Benarkah Ranjang Untuk Atlet Olimpiade Tokyo Dibuat Agar Anti-Seks?
21 July 2021
Baru-baru ini muncul kabar bahwa tempat tidur yang disediakan untuk para atlet di Olimpiade Tokyo adalah “ranjang anti-seks” yang membuat mereka tak bisa bercinta di atasnya.

Baru-baru ini muncul kabar bahwa tempat tidur yang disediakan untuk para atlet di Olimpiade Tokyo adalah “ranjang anti-seks” yang membuat mereka tak bisa bercinta di atasnya. Apa pasalnya? 

Spekulasi tentang desain tempat tidur "anti-seks" pertama kali dicetuskan oleh atlet Amerika, Paul Chelimo, peraih medali perak lari 5.000 meter di Olimpiade Rio 2016. Hal ini muncul saat ia melihat tempat tidur di wisma bagi para atlet. Tempat tidur tersebut dibuat dari karton daur ulang. Paul pun menulis di Twitter bahwa tempat tidur tersebut tidak dapat menampung lebih dari satu orang dan "bertujuan untuk menghindari keintiman di antara para atlet." Warganet pun segera menyebutnya sebagai “ranjang anti-seks”.

Rhys McClenaghan, seorang atlet senam dari Irlandia, menyebut klaim itu sebagai “berita bohong”. Rhys mengunggah sebuah video di Twitter yang memperlihatkan dirinya melompat di atas tempat tidur untuk menunjukkan bahwa ranjang tersebut bisa menahan beban berat dan aktivitas yang kuat. Akun Twitter resmi Olimpiade me-retweet ulang video Rhys dan menambahkan: “Terima kasih telah menyanggah kabar tersebut.”

Nyatanya, pemakaian tempat tidur yang terbuat dari karton ini dilakukan sebagai bagian dari rencana keberlanjutan Olimpiade. Rangka tempat tidur ini didaur ulang, dengan kasur yang terbuat dari plastik yang akan didaur ulang menjadi produk plastik setelah Olimpiade. Produsen tempat tidur Airweave menyatakan bahwa tempat tidur sepanjang 2,1 meter tersebut dapat menahan berat hingga 200 kilogram.

Kebutuhan dan kesehatan seksual para atlet Olimpiade selau menjadi perhatian para penyelenggara acara olahraga akbar ini sejak dulu. Kondom selalu dibagikan kepada para atlet sejak Olimpiade Seoul 1988 untuk meningkatkan kesadaran akan HIV dan AIDS. Penyelenggara Olimpiade Tokyo menyediakan sekitar 150 ribu kondom. Namun, sebagai bagian dari tindakan pencegahan virus corona, para peserta tidak akan diberikan persediaan selama mereka tinggal di wisma atlet, tetapi akan menerimanya sebagai suvenir saat keberangkatan mereka.

Di masa pandemi Covid-19, para atlet sebenarnya didorong untuk menjaga interaksi fisik dengan orang lain seminimal mungkin dan menghindari kontak fisik, termasuk pelukan dan jabat tangan untuk pencegahan penyebaran virus. 

Forget password
Masukkan email yang Anda daftarkan di Womantalk
Send
Forget password
kode verifikasi telah dikirim ke email Anda
Kirim
Ganti Kata Sandi
confirm password
Kirim
Verify your e-mail
Masukkan kode verifikasi yang telah dikirimkan ke email Anda
Verify
Change e-mail
Change E-mail