Chef Profesional Menyangkal dan Meluruskan 7 Mitos Seputar Seafood

1539475220132
  • share line
  • share bbm
Chef Profesional Menyangkal dan Meluruskan 7 Mitos Seputar Seafood

Seafood adalah jenis makanan yang sering dikambinghitamkan, terutama berkaitan dengan kesehatan. Namun, chef profesional spesialis seafood akan membantu meluruskan fakta dan menyangkal beberapa mitos berikut ini.

Mitos: Semua ikan mengandung tingkat merkuri berbahaya

“Mungkin ada benarnya, tetapi biasanya ini dikandung oleh ikan yang besar. Merkuri terakumulasi karena proses rantai makanan. Karena itu, ikan yang besar dan predator yang hidup lebih lama seperti ikan hiu dan ikan todak cenderung memiliki kandungan merkuri lebih besar dibanding ikan kecil dan ikan air tawar.” -- Michele Lisi, Chef, Nerano


Baca juga: 

Ingin Lebih Cepat Hamil? Jangan Malas Makan Seafood!


Mitos: Memasak ikan lebih sulit dibanding jenis daging lainnya

“Saya bilang ada benarnya, banyak ikan cenderung lebih lembut dan sulit dibanding jenis daging lainnya. Lebih mudah hancur saat dimasak. Namun, yang jelas lebih sedikit lemak dibanding daging.” -- Paley

Mitos: Ikan segar selalu lebih baik dibandingkan ikan beku

“Ikan liar yang ditangkap berdasarkan hukum harus dibekukan dulu untuk membunuh parasit. Tidak apa-apa membeli ikan beku karena praktis. Karena ikan itu beku saat masih segar, semua rasa dan nutrisi, begitupun dengan tekstur, tetap terjaga.” -- Lisi

(Sumber: the healthy fish)

Mitos: Semua seafood memiliki bau amis yang kuat

“Tidak, tidak sama sekali. Jika sudah berbau yang sangat amis, jangan dimakan lagi karena kemungkinan sudah tidak segar. Tips untuk menyimpan ikan di rumah: pisahkan dari bungkusnya, cuci, lap hingga kering, dan taruh di kulkas sampai Anda ingin menggunakannya untuk menjaganya tetap segar dan menjaganya dari bau amis.” Lior Hillel, Executive Chef, Bacaro L.A


Baca juga: 

Kenapa Harus Pikir-Pikir Ulang Sebelum Makan Seafood?


Mitos: Oyster adalah afrodisiak

“Telah menjadi presenter dari IACP workshop ‘Mood, Food, and Sex,’ saya telah melakukan banyak riset tentang afrodisiak. Saya mengeksplorasi sejarah makanan bersama dengan simbolisme, kualitas maskulin dan feminin, aroma, dan efek untuk tubuh. Benang merah yang mereka punya adalah mereka semua memiliki nilai nutrisi, antioksidan, dan kemampuan untuk meningkatkan tekanan darah – semua hal baik untuk libido yang sehat.” Glenda Galvan-Garcia, Executive Chef, Granville

(Sumber: solsticepr)

Mitos: Udang tidak baik untuk kolesterol

“Udang sesungguhnya tidak memiliki kalori tinggi, berada di level yang sama dengan dada ayam. Walaupun mereka dianggap memiliki kolesterol tinggi ketika diukur dengan pola pikir tradisional. Metode memasak (rebus, panggang, goreng, cocktail) dan jumlah yang dimakan harus selalu dipertimbangkan. Tidak berlebihan adalah kuncinya.” Baumberger

(Sumber: manettas seafood market)

Mitos: Lobster teriak kesakitan saat direbus

“Lobster tidak memiliki pita suara. Suara yang Anda dengan adalah uap yang keluar dari cangkang saat lobster dimasak. Lobster memiliki sistem saraf ganglion dan tidak merasa sakit seperti kita. Untuk membunuh loster dengan manusiawi, saya percaya merebus dan mengukusnya adalah metode paling cepat.” – Lisi

Cover: NOAA fisheries

Tag:
seafood, merkuri, kalori, ikan, udang, lobster, mitos
  • share line
  • share bbm
heart 2 People liked this
like liked LIKE
bookmark booked BOOKMARK