#KamisHoror: Odong-Odong Di Tengah Malam
Entertainment

#KamisHoror: Odong-Odong Di Tengah Malam

Sudah beberapa malam--ketika saya kebetulan ada waktu menemani tidur Aya--saya mendengarnya. Deritan roda diiringi lagu anak-anak yang terdengar sember dari speaker tua. 

“Kami datang... Agar hatimu senang... Tak ada lagi duka... Hanya senyum di muka...”

Aya yang tadinya mulai tertidur, tiba tiba matanya terbuka lebar.

“Ma, itu suara odong-odong ya?”
“Iya nak, kok, jadi bangun? Bobok, dong.”
“Lagunya enak, Aya suka.”
“Iya, kalau lewat besok sore, Aya bilang sama Mbak Tuti saja, supaya bisa naik odong-odongnya.”
“Enggak boleh ma, sama Mbak.”

Lalu Aya memejamkan matanya tertidur. Saya menarik napas lega, karena notifikasi dari pesan dan email di ponsel sudah bertambah terus meminta dijawab. Sulit mencari waktu istirahat jika bekerja di perusahaan digital yang seolah tak pernah tidur. Setelah memastikan Aya sudah benar-benar lelap, saya meninggalkan kamarnya dan menutup pintu perlahan. Lalu kembali duduk di depan laptop yang masih terbuka. Sambil membaca dan mengetik, sayup-sayup terdengar kembali sebuah lagu. 

“Ayah ibu sulit mengerti... Kalau terkadang sedih di hati... Saat mereka tak di rumah... Atau ketika mereka marah.”

Saya melihat jam dinding yang menunjukkan waktu lewat tengah malam. Agak aneh jika masih ada odong-odong lewat begitu larut begini. Tetapi mungkin abangnya hanya baru pulang dari tempat dia biasa mangkal. Saya tidak memikirkannya lagi, karena proposal yang besok pagi harus dikirimkan ke klien lebih menuntut perhatian. 

Keesokan paginya, saya menyempatkan untuk mengecup Aya sebelum pergi. Terlihat di dahinya, sedikit tertutup poni kebiruan yang sebelumnya saya tidak lihat. Aya tidak terbangun ketika saya memanggil Tuti.

“Tuti, apa Aya kemarin terantuk sesuatu?”
“Iya Bu, yang jidatnya biru, ya? Kemarin dia lari-lari dan meleng, jadi nabrak pintu, Bu.”
“Ya ampun, kamu awasi, dong! Bilang selalu hati-hati kalau lari atau jalan.”
“Iya Bu, saya akan awasi.”
“Sering sekali dia menabrak sesuatu, minggu kemarin kakinya yang biru-biru, lalu lengan, sekarang dahi. Hati-hati, ya, Tut!”
“Iya, Bu.”

Lalu saya bergegas berangkat ke kantor tanpa teringat masalah ini hingga pulang malam harinya. Ketika itu, Aya sudah tidur bersama Tuti ketika saya sampai rumah. Setelah ganti baju, saya merebahkan diri di tempat tidur dan menyempatkan diri membaca linimasa media sosial, hanya ingin update sebelum tidur. Tidak ada yang terlalu penting, hanya sisa berita pemilihan kepala daerah, harga cabai yang belum juga turun, dan beberapa berita yang sama tentang seorang anak yang belum pulang ke rumahnya sejak tadi malam. Ah, orang-orang ini sering heboh sebelum waktunya. Terkadang saya suka kesal kalau belum belum masyarakat sudah berteriak mengenai penculikan, dan tidak jarang akhirnya terbukti bahwa yang melakukan penculikan ternyata orang tua yang sudah pisah, karena sengketa hak asuh anak. Untung saya dan mantan suami berpisah baik-baik. Tak urung dahi saya berkerut ketika disebutkan di berita bahwa si anak hilang tinggal tak jauh dari tempat saya tinggal.

Tiba-tiba ada rasa ingin menghirup udara segar. Saya pun keluar menuju teras dan duduk di kursi. Malam itu hujan rintik-rintik dan sayup-sayup terdengar lagu anak-anak yang familier karena akhir-akhir ini sering terdengar. Semakin terdengar jelas, kemudian sebuah odong-odong berlalu dengan lelaki pengayuhnya yang menggunakan topi hingga sebagian wajahnya tak terlihat. Merasa aneh, selarut ini lagu odong-odong masih berbunyi, dan mendadak bulu kuduk berdiri melihat ada satu anak yang duduk di salah satu boneka di odong-odong itu. Ada yang aneh dengan pakaian yang dikenakan oleh anak itu. Saya mengaktifkan ponsel yang di genggaman untuk memeriksa tulisan mengenai pakaian yang anak hilang kenakan ketika terakhir terlihat. Ternyata sama dengan yang dipakai oleh anak di odong-odong! Sambil menelepon nomor darurat saya langsung lari ke jalan melihat ke mana pergi mereka, tetapi jalan kanan kiri rumah terlihat kosong melompong. Tak ada satu orang pun. Lagu yang tadinya sayup terdengar pun sekarang diganti dengan suara jangkrik. Ke mana mereka pergi?

Keesokan harinya, setelah melaporkan dengan lengkap apa  yang saya lihat, sambil buru-buru mengejar pekerjaan di kantor, saya berusaha terus update dengan berita. Tetapi hingga sore polisi belum juga menemukan tukang odong-odong itu. Kesal sekaligus sedih rasanya, kenapa polisi membiarkan penculik anak lolos begitu mudahnya?

Sekali lagi saya harus pulang larut. Karena kelelahan, saya merebahkan diri sebentar di sofa sambil memejamkan mata, namun akhirnya ketiduran. Tiba-tiba saya melihat wajah Aya mendadak ada dekat sekali. Mulut kecilnya sedang berkata-kata, tetapi tidak keluar suara. Saya pasti sedang bermimpi. Saya berusaha menggapai Aya sambil meminta dia mengulangi kata-katanya. 

“Mbak Tuti nakal ma, suka pukul Aya.”

Tiba-tiba suaranya begitu lantang, sampai saya tergugah. Apakah saya terbangun? Langsung terbayang lebam yang sering terlihat di badan Aya yang kecil. Saya menangis menggerung. Tidak, saya belum bangun. Lalu sayup sayup terdengar lagu yang begitu ceria sekaligus membuat bulu kuduk berdiri.

“Saat ibu tidak di rumah... Dan Mbak sering marah... Hati rasanya tak pernah senang... Apakah itu yang namanya sayang?

"Ikut saja bersama kami... Karena kami selalu menggembirakan hati... Kami bawa kamu pergi jauh...
Ke tempat orangtua tidak bisa menempuh...”

Saya langsung terbangun. Kali ini saya benar-benar bangun karena angin bertiup dari luar lewat pintu depan yang terbuka lebar. Mengikuti insting, saya langsung ke kamar Aya, dan melihat di tempat tidur hanya ada Tuti yang tadinya menemani Aya tidur. Tetapi Aya tidak ada. 

“Tuti! Bangun! Aya di mana?”
Tuti kaget terbangun sambil mengucek matanya. “Loh, barusan tidur di sini bu.”

Saya lari ke depan rumah. Jalan kosong melompong. Gerimis. Lagu itu terus mengalun dibawa angin.

“Di jauh kita akan selalu gembira... Tak ada lagi duka lara... Karena semua yang membuat kita sedih... Tak lagi bisa menghampiri...”

 

  •   0
  •   Komentar ( 2 )