#KamisHoror: Kediaman Kosong Di Sebelah Rumah
Entertainment

#KamisHoror: Kediaman Kosong Di Sebelah Rumah

Sudah lebih dari setahun rumah di samping rumah ayah di kawasan Jakarta Timur kosong. Penghuni rumah sebelah, Oma Desi, meninggal dunia 1 tahun yang lalu. Sementara anak satu-satunya Oma Desi, Om Burhan, bekerja dan tinggal di Bali sudah hampir 15 tahun. Tampaknya ia dan keluarganya tak berminat untuk kembali ke Jakarta yang sumpek sehingga memutuskan untuk menjual rumah itu. Maka, sejak Oma Desi tiada, rumah itu dibiarkan kosong karena menunggu pembeli.

Saya sendiri karena bekerja dan kos di daerah Jakarta Pusat, jarang pulang dan menginap di rumah. Salah satunya karena rumah kosong di sebelah itu. Ceritanya, enam bulan setelah kepergian Oma Desi, saya pulang ke rumah pada jumat malam. Saya baru sampai rumah sekitar pukul 01.00 pagi karena hangout dulu dengan teman-teman sepulang bekerja. Turun dari taksi, saya mengetuk-ngetuk pagar depan menanti penghuni rumah membukakan  pintu. Saya lupa memberi tahu orang rumah kalau malam itu saya berencana pulang. Huft, gara-gara keasyikan ngobrol sama teman-teman, nih, pikir saya.

Saat sedang mengetuk-ngetuk pengait pagar, kepala saya secara refleks menoleh ke rumah kosong di sebelah, rumah Oma Desi. Sekilas saya melihat ada sosok gelap berdiri memandangi saya dari balik jendela. Ya Tuhan! Saya semakin kencang membunyikan pintu pagar. Duh, lama banget sih… Saya ketakutan sendiri. Meski saya sudah berusaha menahannya, namun entah kenapa kepala saya kembali menoleh ke arah rumah itu. Dan… sosok itu masih di situ!

Saat tubuh saya makin membeku, muncul kakak laki-laki saya membuka pintu depan sambil mengomel, “Kenapa lo nggak bilang kalau mau pulang malam gini?”. Saya tak peduli dengan omelannya selanjutnya, karena buru-buru masuk ke dalam rumah secepat kilat.

***

Sejak kejadian itu, saya jadi agak jarang pulang ke rumah. Sampai tiga bulan kemudian di suatu akhir pekan, ibu akan mengadakan arisan keluarga sehingga saya harus pulang membantunya. Saya sengaja datang hari Sabtu pagi supaya tak mengalami kejadian seperti dulu. Meski pagi itu matahari sudah cukup tinggi, suasana di sekitar rumah saya cukup sepi. Saat membuka pintu pagar depan, saya melihat ada anak kecil—kira-kira berusia 4 tahun—sedang bermain bola sendirian di halaman rumah sebelah. Wah, akhirnya berhasil terjual juga rumah itu, pikir saya.

Masuk ke rumah, saya melihat ibu sedang mengupas bawang di dapur. Saya menghampirinya dan mencium pipinya. “Bu, rumah sebelah akhirnya laku juga, ya? Siapa yang beli?” tanya saya. Ibu mengernyit, “Kata siapa sudah laku? Baru semalam om Burhan menelepon ayah, katanya susah banget jual rumah sebelah. Sampai sekarang tak ada pembeli yang cocok. Dia bilang mau nurunin harga saja, yang penting cepat terjual.” 

“Loh, tadi aku lihat ada anak kecil main di halaman rumah itu, bu,” kata saya lagi.

“Ngaco kamu, jelas-jelas itu rumah masih kosong,” jawab ibu buru-buru, seperti enggan membahas lebih lanjut.

Saya bergidik ketakutan.

***

Malam hari sekitar jam 24.00 saat saya hendak tidur, terdengar suara jendela kamar saya ada yang mengetuk. Suara itu bukan dari kamar sebelah, alias kamar kakak laki-laki saya, tapi dari jendela kamar. Ya, saya yakin banget! Posisi kamar saya memang tepat berada di sebelah rumah Oma Desi. Awalnya saya masih tak memedulikannya, tapi suara ketukan itu makin keras. Bahkan ketika saya memperbesar suara televisi di kamar, ketukan itu terdengar makin kencang. Saya langsung berlari keluar kamar dan menuju kamar ibu. “Bu, malam ini aku tidur sama ibu, ya. Ayah tidur di sofa depan saja nggak apa-apa, kan?” tanyaku dengan wajah memelas disambut mimik heran dari kedua orang tua saya.

***

Tiga bulan setelah kejadian terakhir, ibu menelepon saya sedang di kantor. “Kamu benar, San. Ternyata rumah sebelah ada ‘penghuninya’. Penghuninya perempuan dan anak-anak."

“Maksudnya, bu?” tanya saya pelan.

“Tadi Om Burhan datang sama paranormal. Kata paranormal itu, rumah sebelah kosong terlalu lama, jadi ada sesuatu yang datang dan tinggal di sana. Katanya, sih, ‘mereka’ enggak ganggu ibu dan ayah karena tahu kita penghuni lama. Tapi suka nongolin diri sama orang baru, terutama perempuan, makanya dulu kamu diganggu terus. Paranormal itu bilang 'penghuni' rumah itu tidak suka sama kamu. Dia juga bilang butuh waktu agak lama untuk menyuruh mereka pergi karena energi mereka lumayan kuat,” jelas ibu. 

“Aku nggak akan pulang ke rumah dulu, ya, bu.” Cuma itu yang bisa saya katakan pada ibu.

  •   0
  •   Komentar ( 0 )